Apa Itu Love Scamming? Ini Pengertian dan Ciri-cirinya yang Perlu Diwaspadai

14 May 2026 • 02:08 admin

NTBCRIME.COM – Aparat kepolisian bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan mengungkap jaringan penipuan berkedok asmara atau love scamming yang dikendalikan dari Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Kotabumi, Lampung. Kasus ini terungkap setelah petugas menemukan ratusan telepon seluler di dalam rutan.

Mengutip akun Instagram @humas_poldalampung, sebanyak 137 tahanan diduga terlibat dalam sindikat love scamming yang dijalankan secara terorganisir. Para pelaku disebut membuat akun media sosial palsu dengan menyamar sebagai anggota TNI atau Polri untuk menjalin kedekatan dengan korban.

Setelah membangun hubungan, pelaku kemudian membujuk korban melakukan panggilan video bermuatan tidak senonoh. Rekaman atau tangkapan layar dari video tersebut lalu digunakan untuk memeras korban.

Para tahanan yang diduga terlibat telah dipindahkan ke Rutan Kelas IA Bandar Lampung guna mempermudah proses penyidikan.

Apa itu love scamming?

Melansir laman Pusiknas Bareskrim Polri, love scamming atau romance scam adalah penipuan berkedok asmara. Dalam modus ini, pelaku membangun kepercayaan korban dengan kata-kata manis, perhatian, dan janji hubungan romantis.

Pelaku biasanya berpura-pura tertarik atau jatuh cinta pada korban. Setelah ikatan emosional terbentuk, korban diarahkan untuk memberikan uang, data pribadi, atau bahkan melakukan tindakan yang bisa dimanfaatkan untuk pemerasan.

Tak hanya merugikan secara finansial, penipuan ini juga berdampak pada kondisi psikologis korban. Banyak korban merasa malu, terluka, dan kehilangan kepercayaan terhadap orang lain setelah menyadari telah menjadi sasaran penipuan.

Ciri-ciri love scamming yang perlu diwaspadai

1. Pendekatan dilakukan secara online
Modus ini umumnya bermula melalui media sosial, aplikasi kencan, atau layanan pesan instan. Penipu memanfaatkan ruang digital untuk menyembunyikan identitas asli mereka.

2. Proses pendekatan berlangsung sangat cepat
Pelaku biasanya cepat mengungkapkan rasa suka atau cinta dalam waktu singkat untuk membuat korban terbawa perasaan dan lengah.

3. Menggunakan profil palsu
Penipu kerap memakai foto menarik dan membuat identitas palsu, misalnya mengaku sebagai pengusaha sukses, tokoh penting, atau pribadi dengan latar belakang pendidikan tinggi.

4. Banyak memberi pujian dan perhatian
Korban biasanya dibanjiri kata-kata manis, perhatian berlebih, dan janji-janji romantis agar semakin percaya.

5. Mulai meminta uang atau informasi pribadi
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku biasanya mulai meminta transfer uang, data pribadi, atau mengarahkan korban ke situasi yang bisa dimanfaatkan untuk pemerasan.

Masyarakat diminta lebih waspada saat berinteraksi dengan orang yang baru dikenal secara daring, terutama jika hubungan berkembang terlalu cepat dan disertai permintaan yang tidak wajar.

admin
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya