Iran Ancaman Balik Ultimatum AS Terkait Selat Hormuz

22 Mar 2026 • 16:49 iMedia

NTB Crime – Iran telah mengeluarkan pernyataan tegas sebagai respons terhadap ultimatum yang diumumkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Ultimatum tersebut menuntut agar Iran membuka Selat Hormuz dalam waktu 48 jam, atau AS akan menyerang infrastruktur listrik negara tersebut.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis oleh komando militer Iran, Khatam Al-Anbiya, mereka mengatakan akan mulai menargetkan infrastruktur milik AS di kawasan Timur Tengah jika ancaman tersebut direalisasikan. “Jika infrastruktur bahan bakar dan energi Iran dihancurkan oleh musuh, maka semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi yang dimiliki oleh AS dan rezim di kawasan akan menjadi sasaran,” tambahnya.

Pernyataan ini muncul setelah Trump menulis di platform Truth Social bahwa tindakan tegas akan diambil jika Iran gagal membuka Selat Hormuz. “Jika Iran tidak sepenuhnya membuka, tanpa ancaman, Selat Hormuz dalam waktu 48 jam dari sekarang, Amerika Serikat akan menyerang dan menghancurkan berbagai pembangkit listrik mereka, dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu,” tulis Trump.

Selat Hormuz sendiri merupakan jalur distribusi minyak yang vital, menyuplai sekitar 20 persen dari total pasokan minyak dunia. Penutupan jalur ini dapat berimbas pada kesulitan negara-negara di kawasan Teluk dalam mengekspor minyak mereka, mengakibatkan penurunan produksi serta lonjakan harga energi.

Lonjakan harga minyak global pun terjadi, dengan harga pada Jumat lalu (20/3) ditutup di angka US$112 per barel, yang menjadi yang tertinggi sejak tahun 2022. Kenaikan ini telah memicu kekhawatiran di banyak negara mengenai stabilitas pasokan energi dan potensi peningkatan harga bahan bakar minyak (BBM) di pasar domestik.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya