Polres Lombok Utara Luncurkan Gerakan Membaca Dua Lembar Sehari untuk Perkuat Literasi

11 Apr 2026 • 00:35 admin

NTBCRIME.COM – Polres Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, meluncurkan program Membaca 2 Lembar Sehari sebagai upaya mendorong budaya literasi di lingkungan internal kepolisian dan Bhayangkari. Program ini digagas dari keprihatinan terhadap rendahnya minat baca masyarakat.

Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menyampaikan bahwa gerakan tersebut dirancang sederhana, namun diharapkan memberi dampak jangka panjang. Seluruh jajaran Polres hingga Polsek diwajibkan meluangkan waktu sekitar 10 hingga 15 menit setiap hari untuk membaca minimal dua halaman buku.

“Sebagai akademisi, saya tidak bisa tinggal diam. Membaca adalah asupan wajib bagi otak dan jiwa. Dengan dua lembar sehari, kita membangun fondasi peradaban. Lombok Utara tidak boleh terus berada di zona 3T,” ujar Ny. Heny, Selasa (15/7).

Program ini juga mengacu pada data BPS dan UNESCO yang menunjukkan rendahnya tingkat minat baca di Indonesia. Di Lombok Utara, kondisi serupa masih menjadi perhatian meski disebut sedikit lebih baik dibandingkan rata-rata nasional.

Kapolres Lombok Utara, AKBP Agus Purwanta, S.I.K., mengatakan gerakan membaca tersebut sejalan dengan semangat Polri Presisi dan Asta Cita Presiden yang menekankan penguatan sumber daya manusia berbasis literasi dan sains.

“Penegakan hukum masa depan tak bisa hanya mengandalkan otot, tapi juga otak. Crime scientific identification butuh kemampuan literasi dan pemahaman data yang terus diperbarui. Maka dari itu, budaya membaca jadi kebutuhan mendesak,” kata Agus.

Untuk mendukung program itu, Polres Lombok Utara menyiapkan pojok baca di sejumlah titik lingkungan kantor dengan koleksi buku fisik, e-book, hingga regulasi terbaru. Ke depan, pengembangan perpustakaan digital juga disiapkan agar akses literasi tidak hanya dimanfaatkan internal, tetapi juga masyarakat.

Inisiatif tersebut mendapat sambutan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Lombok Utara. Sekretaris Dispusarsip, H. Muhammad, menilai gerakan itu dapat menjadi pemantik kolaborasi literasi di berbagai sektor.

“Kami siap bersinergi. Literasi harus turun ke desa, ke sekolah, ke komunitas. Kalau bisa membaca, itu bagus. Kalau bisa menulis, itu luar biasa. Dengan dua aktivitas ini, kita bisa mengubah masa depan,” ujarnya.

Ny. Heny menegaskan bahwa gerakan membaca harus dimulai dari keluarga agar menjadi kebiasaan yang diwariskan kepada anak-anak. Menurutnya, masyarakat yang gemar membaca akan lebih siap menyongsong Indonesia Emas 2045.

admin
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya