Israel Klaim Tewaskan Komandan Hizbullah dalam Operasi Militer di Lebanon

09 Mar 2026 • 23:45 iMedia

NTB Crime – Militer Israel mengabarkan perkembangan terbaru terkait pertempuran yang sedang berlangsung melawan kelompok bersenjata Hizbullah, yang didukung oleh Iran. Dalam sebuah operasi yang dilaksanakan di Lebanon selatan, Israel menyatakan bahwa mereka berhasil menewaskan komandan Unit Nasr Hizbullah, Abu Hussein Ragheb.

Menurut laporan yang dirilis oleh AFP, pada Senin (9/3/2026), Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengonfirmasi bahwa dirinya telah menerima informasi mengenai keberhasilan operasi militer tersebut yang menargetkan komandan kelompok itu.

Unit Nasr dikenal beroperasi di sektor timur wilayah selatan Sungai Litani, Lebanon. Unit ini sebelumnya terlibat dalam beberapa serangan lintas batas ke Israel, yang terjadi setelah serangan Hamas pada bulan Oktober tahun lalu, yang memicu ketegangan di kawasan.

Selain itu, militer Israel juga meluncurkan serangan di Desa Qlayaa, yang terletak di Lebanon selatan. Dalam peristiwa itu, seorang pendeta bernama Pierre al-Rai kehilangan nyawanya setelah terkena tembakan dari tank Israel. Laporan yang dihimpun oleh Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) menyebutkan bahwa dua tembakan artileri dari tank Merkava milik Israel menghantam sebuah rumah di desa dengan mayoritas penduduk Kristen.

Serangan pertama membuat pemilik rumah dan istrinya mengalami cedera. Saat warga setempat, termasuk pendeta Rai dan paramedis Palang Merah, mencoba memberikan pertolongan, lokasi tersebut kembali diserang, yang menyebabkan beberapa orang terluka, termasuk Rai.

Pendeta tersebut akhirnya meninggal dunia akibat luka-luka yang dideritanya, seperti yang diinformasikan oleh sumber medis kepada AFP. Hingga saat ini, tidak ada penjelasan resmi mengenai alasan di balik penargetan rumah tersebut oleh militer Israel.

Beberapa hari sebelum insiden tersebut, tepatnya pada Jumat (6/3), Rai diketahui hadir dalam sebuah pertemuan masyarakat di kota Marjayoun. Dalam pertemuan itu, warga menyatakan keteguhannya untuk tetap tinggal di rumah meskipun ada peringatan evakuasi dari tentara Israel di wilayah selatan Sungai Litani, yang berjarak sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel.

Dalam pidatonya, Rai menekankan bahwa masyarakat hanya ingin mempertahankan tanah mereka dengan cara damai. “Kami mempertahankan tanah kami dengan damai dan hanya membawa senjata berupa kebaikan, cinta, dan doa,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa warga terpaksa tetap berada di wilayah berisiko ini karena tempat tersebut adalah rumah mereka yang tidak ingin mereka tinggalkan.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya