Ketidakpuasan Trump atas Pemilihan Pemimpin Tertinggi Iran
NTB Crime – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan merasa tidak puas dengan terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Iran. Pernyataan ini diungkapkan oleh Brian Kilmeade, pembawa acara Fox News, kepada publik.
Menurut laporan Al Jazeera pada Senin (9/3/2026), Trump menyatakan kepada Kilmeade, “Saya tidak senang” mengenai keputusan Iran untuk memilih Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, mendiang Ayatollah Ali Khamenei. Meskipun demikian, Trump belum memberikan komentar resmi kepada publik terkait hal ini.
Sebelumnya, Trump pernah menilai putra Khamenei tersebut sebagai “orang yang tidak berpengaruh”. Dalam wawancara dengan ABC News pada Minggu (8/3), sebelum pengumuman resmi pemilihan, Trump menekankan bahwa pemimpin tertinggi yang baru perlu mendapat persetujuan dari Amerika Serikat.
“Jika dia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, dia tidak akan bertahan lama,” ungkap Trump, sebagaimana dikutip oleh Al Arabiya.
Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei, putra kedua mendiang Khamenei, kini resmi terpilih oleh Majelis Pakar Iran sebagai pemimpin tertinggi baru. Majelis Pakar, yang terdiri dari 88 ulama senior, menegaskan bahwa kelompok garis keras tetap berada dalam kendali penuh Iran setelah wafatnya Khamenei pada 28 Februari 2026, akibat serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel.
Mohsen Heidari Alekasir, salah satu anggota Majelis Pakar, menyatakan dalam sebuah video bahwa pemilihan Mojtaba sesuai dengan arahan mendiang Khamenei, yang menegaskan bahwa pemimpin tertinggi harus memicu kebencian dari musuh. Alekasir menambahkan, “Bahkan Setan Besar telah menyebut namanya,” merujuk pada komentar Trump yang menyebut pilihan ini “tidak dapat diterima.”
Mojtaba dikenal sebagai tokoh senior yang memiliki kedekatan dengan pasukan keamanan dan bisnis besar di Iran. Ia adalah penentang reformis yang berusaha membuka hubungan dengan Barat dalam rangka mengekang program nuklir Iran. Hubungan eratnya dengan Garda Revolusi Iran (IRGC) memberikannya pengaruh yang kuat dalam politik dan keamanan negara.
Sebagai pemimpin tertinggi Iran, Mojtaba memiliki wewenang penuh atas keputusan strategis, termasuk dalam kebijakan luar negeri dan program nuklir. Di sisi lain, kekuatan Barat terus berupaya mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir, meskipun Teheran menekankan bahwa program nuklirnya hanya untuk tujuan sipil dan energi.
Rekomendasi untuk Anda
Selengkapnya
