Warga Teheran Mulai Menimbun Kebutuhan Pokok di Tengah Ketegangan

07 Mar 2026 • 05:27 iMedia

NTB Crime – Seiring meningkatnya ketidakpastian akibat gempuran AS dan Israel, sekelompok warga di Teheran mulai menimbun barang-barang kebutuhan pokok. Mereka merasa khawatir akan terjadinya kelangkaan pasokan dan lonjakan harga yang terus berlangsung.

Nasrin, salah satu penduduk Teheran, mengatakan, “Kami harus menyetok barang kebutuhan karena kami tidak tahu berapa lama ini [serangan] akan berlangsung.” Suara ledakan yang terus terdengar di kota menambah rasa cemas mereka.

Kondisi ini diperburuk oleh tekanan biaya hidup yang semakin tinggi, serta sanksi internasional yang memicu protes nasional pada Desember lalu. Tindakan represif dari rezim Republik Islam juga membuat ribuan demonstran menjadi korban. Dalam beberapa hari terakhir, serangan AS dan Israel semakin memperburuk situasi.

Pouyo, seorang warga, melaporkan bahwa harga kebutuhan pokok telah melonjak tajam sejak dimulainya gempuran pada 28 Februari. “Beras sekarang 625 toman [sekitar Rp2.500], sebelumnya hanya 530 toman [Rp2.120],” ujarnya. Dia juga menyebutkan bahwa harga kentang mengalami kenaikan signifikan.

Kantor berita pemerintah menginformasikan bahwa untuk memastikan penyediaan kebutuhan pokok, pemerintah telah melarang ekspor seluruh produk pangan dan pertanian hingga pengumuman lebih lanjut.

Shayan, yang berasal dari Kota Karaj, mengeluhkan tingginya harga paket kuota internet. “Sangat sulit sekarang untuk terhubung ke internet,” katanya. Dia menambahkan bahwa biaya paket internet Starlink meningkat secara drastis.

Masyarakat pun mulai meragukan berapa lama kondisi ini akan bertahan. Omid, seorang pemuda berusia 26 tahun, mengungkapkan harapannya agar situasi ini segera berakhir. Dia awalnya berasumsi bahwa serangan akan terfokus pada sosok tertentu, namun belakangan ini dia mendengar banyak ledakan di berbagai penjuru kota.

Banyak toko di Teheran yang tutup akibat ketakutan, khususnya di dekat area yang terdampak serangan. “Kehadiran pasukan keamanan di jalanan lebih ketat, tetapi situasi di luar sangat sepi,” tambahnya.

Maryam, yang berada di dekat lokasi serangan, mengungkapkan betapa mengerikannya peristiwa tersebut. “Rumah kami bergetar akibat ledakan,” ujarnya. Namun, meskipun beberapa orang melarikan diri dari Teheran, Maryam memutuskan untuk tetap tinggal dan berpartisipasi dalam protes jika diperlukan.

Sebuah laporan dari organisasi kemanusiaan Bulan Sabit Merah Iran mencatat bahwa sekitar 787 orang telah tewas di Iran sejak serangan dimulai. Ketegangan tidak kunjung mereda, dengan militer Israel mengkonfirmasi serangan terhadap kantor kepresidenan Iran dan target infrastruktur lainnya.

Video yang beredar menunjukkan ledakan di Pardis, sebelah timur ibu kota. Sebagai tanggapan, Iran juga melakukan serangan rudal dan drone yang menargetkan fasilitas militer dan pemerintah Israel. Serangan serupa dilaporkan terjadi di negara-negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS, seperti Qatar, Bahrain, dan Yordania.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya