Pernyataan Kontroversial Menteri Pertahanan AS Terkait Iran

NTB Crime – Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, baru-baru ini mengeluarkan pernyataan yang memicu kontroversi. Ia menyebutkan bahwa Iran harus diserang karena menganggap memiliki “delusi kenabian Islam”. Pernyataan ini muncul dalam pidatonya pada hari Senin dan langsung menuai kritik karena dianggap memperburuk situasi konflik serta menyulut nuansa perang agama.

Dalam pidatonya, Hegseth menegaskan, “Rezim gila seperti Iran, yang sangat bergantung pada delusi Islam yang bersifat kenabian, tidak dapat memiliki senjata nuklir.” Pernyataan ini ia sampaikan sebagai pembenaran untuk operasi militer besar-besaran yang dilakukan AS terhadap Teheran, sesuai perintah Presiden Donald Trump.

Pernyataan Hegseth seolah merujuk pada keyakinan sebagian besar umat Islam di Iran, khususnya aliran Syiah, yang meyakini kedatangan Imam Mahdi. Keyakinan ini, meskipun berbeda, juga dikenal di kalangan Ahlussunnah dan berakar dari hadits Nabi Muhammad.

Dalam sebuah konferensi pers, Hegseth menyatakan bahwa serangan tersebut, yang baru saja diluncurkan dua hari lalu, merupakan “operasi udara paling mematikan, paling kompleks, dan paling tepat dalam sejarah.” Ia menuduh kepemimpinan Iran melakukan apa yang ia sebut sebagai perang proksi terhadap Amerika Serikat selama bertahun-tahun.

Hegseth menegaskan, “Kami tidak memulai perang ini, namun di bawah kepemimpinan Presiden Trump, kami menyelesaikannya.” Ia menambahkan, jika ada pihak yang mengancam keselamatan warga Amerika, mereka akan diburu tanpa ragu dan permohonan maaf.

Pernyataan tersebut turut dibahas di tengah perubahan strategi AS terhadap Iran di mana Hegseth menekankan bahwa Washington tidak akan membiarkan Teheran memperoleh senjata nuklir. Hegseth yang dikenal sebagai komentator televisi yang anti-Islam, memiliki latar belakang yang risau, termasuk tato bertuliskan “kafir” dalam huruf Arab di lengannya, meskipun ia tetap dipilih oleh Trump meskipun ada penolakan dari beberapa anggota parlemen.

Organisasi advokasi Islam, CAIR, mengecam retorika Hegseth dan menyerukan perhatian serius dari semua warga Amerika. “Retorika ‘perang suci’ yang digunakan untuk membenarkan serangan terhadap Iran sangat mengkhawatirkan,” tulis mereka. Mereka juga mengingatkan bahwa Netanyahu menggunakan kisah Alkitab untuk membenarkan agresi Israel, yang berpotensi memicu perang agama.

CAIR menilai, ungkapan Hegseth tentang ‘khayalan kenabian Islam’ yang ditujukan kepada keyakinan Syiah sangat tidak dapat diterima. “Kami melihat perlunya menghentikan retorika berbahaya ini yang berpotensi memperburuk keadaan,” tambah mereka.

Laporan juga mencatat bahwa beberapa komandan militer AS telah memberi tahu unit mereka bahwa perang melawan Iran adalah bagian dari rencana ilahi, yang mengaitkan hal ini dengan nubuat dalam Alkitab. Organisasi Military Religious Freedom Foundation (MRFF) melaporkan bahwa mereka telah menerima lebih dari 200 keluhan terkait dengan hal ini, menunjukkan adanya ketidakpuasan di kalangan personel militer.

Dalam situasi yang kompleks ini, komentar Hegseth dan reaksi yang ditimbulkannya menggambarkan bagaimana politik internasional dapat berinteraksi dengan kepercayaan agama, menciptakan situasi yang berpotensi berbahaya.

admin
Penulis.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya