Kritik Mengguncang AS Setelah Pernyataan Blunder Menlu Rubio Soal Iran

06 Mar 2026 • 11:34 iMedia

NTB Crime – Pernyataan Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menciptakan gelombang kritik yang melanda pemerintahan Presiden Donald Trump. Rubio baru-baru ini mengungkapkan pernyataan kontroversial mengenai serangan AS ke Iran, yang diindikasikan sebagai langkah awal untuk melindungi kepentingan Israel.

Dalam konferensi di Capitol Hill, Rubio menyebut upaya serangan ini sebagai respons dini terhadap ancaman yang ditimbulkan oleh Israel, yang diyakini akan melakukan serangan lebih dulu ke Teheran. Dengan tegas, ia menegaskan bahwa jika AS tidak bertindak, pasukan mereka di Timur Tengah rentan terhadap serangan balasan dari Iran.

“Kami sudah tahu Israel akan beraksi. Keterlambatan kami akan berpotensi meningkatkan jumlah korban,” ujar Rubio pada Senin (2/3/2026), merujuk pada informasi dari Al Jazeera. Pernyataan tersebut langsung memicu kontroversi di berbagai kalangan.

Banyak analis politik menilai pernyataan ini menggambarkan betapa Amerika Serikat terjebak dalam agenda politik Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Council on American-Islamic Relations (CAIR) mengeluarkan pernyataan resmi yang mengekspresikan keterkejutannya bahwa AS tidak menyerang Iran berdasarkan ancaman langsung, melainkan karena kepentingan Israel yang lebih besar.

Tidak hanya kritik datang dari pihak oposisi, tetapi juga mulai muncul suara ketidakpuasan dari kalangan pendukung Trump sendiri. Beberapa influencer pro-Trump, seperti HodgeTwins, mengungkapkan lewat media sosial bahwa pemilih Trump tidak memilih untuk mengorbankan tentara mereka demi kepentingan Israel.

Mengetahui dampak negatif dari pernyataan Rubio, Trump merespons dengan narasi yang berbeda. Ia mengatakan tindakan tersebut diambil demi keamanan nasional AS sambil menyatakan bahwa Iran tengah bersiap untuk melakukan serangan.

“Kita tidak bisa hanya menunggu untuk diserang,” tegas Trump dalam konferensi pers, Selasa (3/3/2026). Namun, hingga kini, pemerintah AS belum dapat memberikan bukti intelijen yang meyakinkan mengenai ancaman serangan dari Iran dalam waktu dekat.

Di sisi lain, hubungan antara Trump dan Netanyahu juga terlihat semakin memanas. Netanyahu dilaporkan melakukan panggilan telepon dengan Trump pada tanggal 23 Februari 2026, sebelum serangan dimulai.

Panggilan tersebut berkaitan dengan informasi mengenai pertemuan penting yang melibatkan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Percakapan tersebut menandai koordinasi yang mulai intens antara AS dan Israel dalam beberapa bulan terakhir.

Laporan dari Axios menyebutkan bahwa Trump sudah memiliki kecenderungan untuk menyerang Iran bahkan sebelum mendapatkan informasi intelijen baru. Persiapan serangan dipercepat setelah Trump menerima informasi terkini mengenai Khamenei, yang dianggap sebagai target utama.

Memang, keputusan untuk tidak mengumumkan rencana serangan dalam waktu dekat diambil Trump untuk menghindari Khamenei bersembunyi, menciptakan kesan bahwa tindakan militer ini merupakan hasil dari keputusan strategis yang matang.

iMedia
iMedia adalah penulis di bawah jaringan Inspira Media, sebuah ekosistem media digital yang berfokus pada penyajian berita, opini, dan informasi aktual secara cepat, akurat, dan relevan.

Rekomendasi untuk Anda

Selengkapnya