Status Kelulusan SPMB Berubah Mendadak, Puluhan Orang Tua Siswa Datangi Dinas Pendidikan NTB

MATARAM, NTBCrime.com — Puluhan orang tua calon siswa SMA di Kota Mataram mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTB pada Selasa (30/6/2026). Mereka meminta penjelasan terkait perubahan status kelulusan anak-anak mereka dalam Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) jalur domisili.

Para orang tua mengaku kecewa setelah anak mereka sempat dinyatakan lolos seleksi, namun beberapa jam kemudian status tersebut berubah menjadi tidak diterima. Kondisi ini dinilai membingungkan dan merugikan calon siswa yang sebelumnya telah merasa mendapatkan kepastian.

Sesuai dilansir dari Garda Asakota, salah satu perwakilan orang tua, Rusmini, warga Pagesangan, mengatakan anaknya sempat dinyatakan diterima di SMA Negeri 1 Mataram pada Jumat sore. Namun, sekitar pukul 21.00 WITA pada hari yang sama, status kelulusan itu tiba-tiba berubah.

“Kami sangat senang ketika anak kami diterima. Namun, saat malam tiba, statusnya berubah menjadi tidak diterima. Kami merasa dipermainkan,” ujar Rusmini.

Menurutnya, perubahan tersebut tidak hanya terjadi pada status anaknya, tetapi juga pada jumlah kuota siswa yang diterima di SMA Negeri 1 Mataram. Ia menyebut, pada pengumuman awal jumlah siswa yang diterima tercatat sebanyak 255 orang. Namun beberapa jam kemudian, angka itu berubah menjadi 205 siswa.

“Kami mempertanyakan perubahan ini. Ke mana hilangnya 50 kuota itu? Tidak ada penjelasan sama sekali yang kami terima hingga kini,” tegasnya.

Rusmini mengaku para orang tua telah dua kali mendatangi Dinas Pendidikan NTB untuk meminta klarifikasi. Pada pertemuan pertama, mereka hanya diarahkan untuk mengikuti informasi melalui akun SPMB Online.

Sementara pada pertemuan kedua, para orang tua bertemu dengan Kepala Bidang SMA Dinas Dikbud NTB, M. Toha. Namun, menurut Rusmini, penjelasan yang diberikan belum menjawab inti persoalan, terutama terkait alasan perubahan status kelulusan dan perubahan jumlah kuota.

“Kami hanya diarahkan mencari sekolah lain yang masih memiliki kuota kosong. Ini bukan solusi yang kami cari. Kami ingin tahu mengapa terjadi perubahan mendadak ini,” katanya.

Ia menegaskan para orang tua tidak ingin menuduh adanya permainan dalam proses seleksi. Namun, mereka mendesak pemerintah membuka data secara transparan agar publik mengetahui penyebab perubahan tersebut.

“Kami tidak ingin menuduh siapapun. Kami hanya meminta data yang jelas. Jika ada kesalahan sistem atau operator, tolong dijelaskan. Jangan biarkan kami menggantung seperti ini,” ujarnya.

Rusmini juga mempertanyakan adanya data peserta dengan jarak sekitar 86 meter dari SMA Negeri 1 Mataram. Menurutnya, kawasan di sekitar sekolah tersebut lebih banyak didominasi perkantoran dibanding permukiman.

“Kami melihat ada data jarak 86 meter. Pertanyaan kami, apakah benar ada kawasan permukiman di sekitarnya? Ini perlu penjelasan yang terbuka,” ucapnya.

Ia menyebut persoalan ini tidak hanya dialami anaknya, tetapi juga puluhan calon siswa lain, khususnya dari wilayah Pagesangan, yang mengalami perubahan status serupa.

Para orang tua berharap Dinas Pendidikan NTB segera mengambil langkah konkret dan memberikan penjelasan resmi terkait penyebab perubahan status tersebut. Mereka juga meminta agar hak calon siswa tidak hilang akibat persoalan administrasi maupun sistem.

“Jika sejak awal anak kami dinyatakan tidak diterima, mungkin kami bisa menerima. Namun setelah dinyatakan diterima kemudian dibatalkan, itu sangat menyakitkan bagi anak-anak kami,” ungkap Rusmini.

Ia juga meminta pemerintah mengembalikan kuota sesuai pengumuman awal apabila kuota 255 siswa tersebut memang benar pernah diumumkan.

“Jika sejak awal kuotanya 255, maka biarkan tetap 255. Jangan ada perubahan setelah pengumuman. Anak-anak kami berhak mendapatkan pendidikan di sekolah yang sesuai dengan zonasi yang ditetapkan,” pungkasnya.

admin
Penulis.